Minggu, 27 Mei 2012

naskah drama. by hastian abdul azis&anne diana

yaa seperti biasa tugas di sekolah selalu menuntut yang tidak-tidak(bagi saya) inilah salah satu tugas yang membuat pusing... yaitu Drama Bahasa Indonesia-_- yang mengambil cerita dari pengalaman saya sendiri. hehehe drama ini diperankan 9 orang. yaa cerita lebayy sekali wkwkw.
Semoga Bermanfaat ;);)

KESEDIHAN DALAM KESENANGAN

Suatu hari Tio sedang duduk termenung di kamarnya sembari menatap kalender.
Tio : “hmmm...... satu, dua, tiga. Wah! Sebentar lagi ulang tahun ku.” (bicara bergurau dengan wajah gembira)
Di sela lamunannya, terdengar suara Ibu yang memanggilnya.
Ibu : “Tio! Kesini sebentar!” (berteriak)
Tio : “iya bu, sebentar.” (sambil mengahmpiri Ibunya)
Saat Tio sudah duduk di ruang keluarga bersama ayah, Ibu dan adiknya. Ternyata mereka membicarakan tentang ulang tahun Tio.
Caca : “Ibu, ayah, kapan kita jalan-jalan buat ngerayain ulang tahun abang?” (dengan nada manja)
Tio : “kok tau Ca, kalau abang sebentar lagi ulang tahun? Memang benar yah kita mau jalan-jalan untuk merayakan ulang tahun ku?” (dengan nada bertanya dan penasaran)
Ibu : “pastilah Caca tahu, dia kan adik mu.”
Ayah : “Caca bener, kita akan jalan-jalan untuk ngerayain ulang tahun mu, kira-kira kau mau kemana bang?”
Tio : “hmmm,,, aku sih terserah Ibu dan ayah saja.”
Di saat sedang asiknya berbincang-bincang tiba-tiba ayah Tio terbatuk-batuk tidak seperti biasanya.
Ayah : “ohok..... ohok.....” (sambil menutup mulut)
Tio : “ayah kenapa? Minum dulu nih.” (sambil memberikan segelas air)
Saat Tio memberikan segelas air, ayah dengan sengaja menolaknya, Tio pun heran.
Ayah : “tidak, ayah gak apa-apa” (dengan pelan dan sambil menyembunyikan tangan kanannya)
Tio : “kenapa ayah menyembunyikan tangan ayah?”
Ibu : “iyaa yah kenapa?” (penasaran)
Ayah : “ayah hanya batuk biasa saja kok”
Dengan keusilan Caca, ia memegang tangan ayah, dan ternyata saat ayah batuk tadi, ayah mengeluarkan darah. Suasana gembira pun berubah menjadi suasana yang menyedihkan.
Caca : “ayah ini apa? Kenapa ada darah?” (bertanya-tanya)
Ibu : “ayah, penyakit ayah sudah semakin parah” (dengan nada sedih)
Ayah : “yaa sudah bu, besok antar ayah ke rumah sakit ayah udah buat janji sama dokter penyakit dalam itu loh, siapa namanya?”
Tio : “Dokter Elva yah.” (dengan nada khawatir)
Ayah : “ oh yaa bener Tio.”
Babak ke-2
Keesokan paginya Tio dan Caca berangkat sekolah. Sepulang  sekolah Tio menceritakan tentang apa yang terjadi tadi malam, kepada sahabatnya Diana.
Tio : “din aku mau cerita nih!” (dengan nada pelan)
Diana : “apa yo?”
Tio : “tadi malem aku dan keluarga ku, ngobrol bareng. Kita sih ngomongin tentang rencana buat ngerayain ulang tahun ku, kita sekeluarga jalan-jalan” (dengan muka murung)
Diana : “wah asik dong!! Tapi kenapa murung gitu??” (penasaran)
Tio : “yaaa gimana gak khawatir, soalnya ayah aku semalem batuk dan batuknya tuh ngeluarin darah. Sekarang lagi kerumah sakit, aku takutnya ayah ku masuk rumah sakit dan gak bisa ngerayain ulang tahun ku. Kan ulang tahun ku besok!!!!”
Diana : “hehh!!!! Gak boleh ngomong gitu yo!!” (sambil menasihati)
Tio : “siaaapp!! Bu komandan.” (tertawa kecil)
Diana : “ yaa udah aku pulang dulu yaa, dadah letnan!!” (membalas senyum)
Babak ke-3
Saat Tio sampai dirumah, rumahnya terasa sepi. Dia pun bingung seharusnya orang tuanya sudah pulang pada pukul 11.00 pagi tadi.
Tio : “kemana ayah dan Ibu?? Ehh iyaa Caca juga mana yaa?” (kebingungan)
Tiba-tiba suara handphone nya berbunyi. Ternyata itu pesan dari Ibunya yang mengatakan bahwa ayahnya dirawat dirumah sakit, ia sangat sedih karena besok hari lagi ulang tahunnya.
Tio : “hah? Ini ibu, apa??? Ayah dirawat?!” (kaget)
Tio : “apakah bakal ditepatin janji ayah? Sekarang saja ayah sedang dirawat” (dengan nada kecewa)
Babak ke-4
Saat diruang perawatan karena penyakit jantung dan paru-paru yang diderita ayah Tio sudah sangat parah. Dokter Elva memanggil Ibu Tio untuk membicarakan masalah penyakit ayah Tio tersebut.
Ibu Tio : “Dok, gimana keadaan suami saya? Saya takut terjadi apa-apa! “ dengan nada cemas.
Dokter Elva : “hasil laboratorium kemarin, menunjukan bahwa cairan di jantung suami Ibu sudah sangat meluas dan hampir terkena paru-paru” (memberitahu dengan nada pasrah)
Ibu Tio : “lalu bagaimana cara yang dapat dilakukan agar suami saya kembali membaik?” (semakin cemas dengan memotong pembicaraan Dokter Elva)
Dokter Elva : “pengobatan yang dapat dilakukan adalah dengan memasang sebuah ring di jantung suami anda, tetapi memerlukan biaya hampir 100 juta, dan pengobatan seperti itu baru ada di negara Singapura.”
Ibu Tio : “yaa saya mohon tolong siapkan saja segalanya, untuk pengobatan suami saya.” (nada sedikit lega)
Tiba-tiba salah seorang suster dirumah sakit tersebut  yang bernama suster Anis memanggil Dokter Elva dan Ibu Tio untuk datang keruangan dimana ayah Tio dirawat.
Suster Anis : “dokter, dokter pasien bapak bramanTio sedang mengalami keadaan kritis, pasien mulai batuk-batuk disertai mengeluarkan darah!!!!!”
Ibu Tio : “ayaaaaaaaaaahhhh!!!!!!!!!!” (sambil berlari menuju ruangan dimana ayah Tio dirawat)
Sesampainya Ibu, dokter dan suster pun langsung terkejut melihat tangan ayah Tio berlumuran darah.
Dokter Elva : “sus, tolong ambilkan alat-alat saya!!” (dengan tegang)
Suster Anis : “siap dok!”
Ibu Tio : “dok, bagaimana? Ayaah apa yang ayah rasakan sekarang?”
Ayah Tio : “sakit banget bu, rasanya ayah sudah tidak kuat!” (dengan lemas)
Dokter Elva : “Ibu! Tolong jangan dulu ajak pasien bicara! Dia dalam keadaan kritis!!!!” (memarahi Ibu Tio)
Suster Anis : “ini dok semua peralatannya!” (sembari memberikan peralatan kedokteran)
Setelah beberapa menit kemudian, ayah Tio pun membaik, karena suntikan yang diberikan Dokter Elva.
Dokter Elva : “Alhamdulillah, keadaan bapak setelah saya beri suntikan sudah cukup membaik” (dengan nada tenang)
Suster Anis : “yaa sudah bapak istirahat dulu.”
Setelah kejadian tersebut, ayah Tio istirahat ditemani Ibu Tio.
Babak ke-5
Saat Tio bersama adiknya dirumah karena Ibunya menunggu ayahnya dirumah sakit. Tio sangat merasa gelisah .
Tio : “Ca! Abang khawatir nih, gimana keadaan ayah yaa? Udah gitu besok abang ulang tahunnya!” (cemas)
Caca : “bang! Jangan ngomong kaya gitu!! Pasti besok ayah pulang. Tapi Caca juga kangen banget sama ayah, padahal baru satu hari ayah gak dirumah.”
Tio : “mana besok kita harus sekolah, dan gak bisa ngejenguk ayah ke rumah sakit!” (dengan nada kesal)
Caca : “iyaa banget bang! Ibu gak ngasih kabar.” (Caca setuju)
Tio : “mungkin Ibu sibuk lagi ngurusin ayah ca! Yaa udah kamu tidur dulu sana”
Waktu telah menunjukan pukul 10.00 malam, karena Tio dan Caca besok harus sekolah. Tio tidak bisa tidur semalaman karena dia gelisah. Dia terus bergurau, karena tidak tenangnya.
Tio : “Ya Allah, sembuhkan ayah ku, agar besok aku bisa merayakan ulang tahun ku, amin yaa Allah.” (sambil mengangkat tangan)
Tio : “ayaaaaaaahhhhhh!!!! Kapan pulang?!!” (sedikit berteriak)
Babak ke-6
Saat pukul telah menunjukan pukul 12.00 malam, ayah Tio kembali krisis.
Ibu Tio : “susterrr!!!! Dokter!!!! Cepat kemari” (berteriak panik)
Suster Anis : “iyaa bu tenang dulu sebentar. Saya akan panggilkan Dokter Elva!” (dengan tegas)
Suster Anis : “dok! Dok!” (sembari keluar ruangan dan memanggil Dokter Elva)
Dokter Elva : “astagfirrullah! Pasien dalam keadaan sangat kritis.”
Ibu Tio : “dok!! Bagaimana suami saya” (sambil menangis)
Dokter Elva : “sebaiknya anda berdoa, karena hanya Allah yang bisa menyembuhkan dan menghilangkan penyakit suami anda!” (dengan cemas)
Selang 15 menit kemudian ayah Tio menghembuskan nafas terakhirnya, dengan masih terikat janji kepada anaknya.
Dokter Elva : “Inallillahi wa’inallilahi rojiuun. Ibu yang sabar yaa, saya tau ini sangat berat. Suami anda sudah tiada.”
Ibu Tio : “ayaaaaaaahhhhhhhhhhhh!!!!!!!!!” (tak bisa berkata apa-apa lagi)
Sesaat setelah jenazah ayah Tio dipindahkan ke ruang jenazah oleh mas Kairo , lalu Ibu Tio menelepon Tio untuk datang kerumah sakit sembari menangis.
Ibu Tio : “Tioooo, kamu datang sekarang ke rumah sakit, ayah,, ayaaah,, ayaah.........”
Tio : (memotong pembicaraan “kenapa ayaah!!!!!!!!!”
Ibu Tio : “yang penting kamu ke rumah sakit sekarang!!!!!!!”
Tio pun langsung mengajak Caca untuk pergi ke rumah sakit, sesaat dirumah sakit, Tio tidak bisa menahan rasa sedihnya, dia langsung memeluk jenazah ayahnya yang terbujur kaku di kamar jenazah.
Mas Kairo : “bu, ade yang sabar yaa, saya tau kehilangan sosok seorang ayah sangatlah sakit sekali.”
Tio : “ ayah kenapa cepet ninggalin Tio, Ibu, dan Caca ayah tega! Ayah gak tau Tio tidak bisa menahan sakitnya ayah pergi! Ayah kenapa yah? Kenapa??????!!!!!!! Ayaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhh!!!!!!!!” (menangis sangat kencang)
Caca : “Ibuuuuuuuu!!! Ayah kenapa?” (bertanya-tanya dan ikut menangis)
Ibu Tio : “ayah udah di surga sayang” (masih menangis)
Tio : “ayah pasti gak tau!!!! Tio sangat mengharapkan jalan-jalan buat ngerayain ulang tahun aku!!! Tapi kenapa ayah pergi!!!!!”
Mas Kairo : “sudah de, sabar yang tabah. Kamu pasti kuat.”
Suster Anis : “oh kamu Tio tuh, ayah mu selalu menceritakan tentang kamu ke saya. Dia sangat bangga mempunyai anak laki-laki seperti mu.” (menenangkan Tio)
Dokter Elva : “ayahmu mengalami komplikasi penyakit yaitu jantung, paru-paru serta ginjal. Jadi mungkin dia sudah tidak kuat menahan semua ini. Kamu harus tegar! Tabah! Kuat! Kamu adalah anak yang selalu ayahmu banggakan” (menenangkan Tio)
Tiba-tiba datang sesosok malaikat serta arwah ayah Tio, dan Caca melihat apa yang terdapat di pojok ruangan.
Caca : “Ibu,,, Ibu itu ayaaaahhhh!!! Ayaaah ayo pulang kerumah”
Ibu Tio : “mana ca?” (menengok kiri-kanan)
Caca : (sambil menunjuk ke pojok ruangan)” i,, tuuu..”
Tiba- tiba malaikat dan ayah Tio menghilang.
Caca : “mana ayah??”
Mas Kairo : “sudah ade, lebih baik ade pulang sudah malam, takut loh malem-malem” (menenangkan Caca)
Babak ke-7
Seminggu setelah meninggalnya ayah Tio, dirumah Tio pun mengadakan tahlilan mengingat seminggu meninggalnya ayah Tio.
Semua : “audzubillahiminasyaiton niraaziim, bismillahirrahman nirrahiim. yaasiiiin, wal quranil hakiiim, shodaqullahhulazim”
Selesai tahlilan Tio pun beranjak ke tempat tidurnya sambil memegang foto ayahnya.
Tio : “sudah seminggu ayah pergi, sepi sekali rumah ini” (berguarau)
Tio       : “ayah... ayah pasti cuman tidur kan ? ayah pasti bangun lagi kan ? ayah aku selalu nunggu ayah untuk menghabiskan waktu bersama ayah....” (sambil perlahan lahan memejamkan mata)
Di dalam mimpi.....
Ayah    : “Tio...” (mengeluarkan suara yang tenang)
Tio       : “ayah... (sambil memeluk ayah) ayah,  aku tau ayah pasti kembali...” (sambil memasang wajah yang bersedih tetapi bahagia)
Ayah    : ” Tio, ayah masih punya janji ke kamu kan...” (tetap bersuara tenang)
Tio       : “janji apa ayah ?” (kebingungan)
Ayah    : “ayah kan janji mau ajak kamu jalan-jalan.” (memandang wajah Tio)
Tio       : “oh iya ayah, ayah kan janji hehee” (memasang wajah yang ceria) “tapi ayah ajak jalan- jalan aku ke tempat yang indah yah, seperti di surga Allah....”
Ayah    : “yaa sudah ayoo ikut ayah!”
Lalu mereka pun pergi, dan entah kemana perginya. keesokan harinya, Caca menghampiri kamar Tio
Caca    : “mmmm.... abang belum bangun yah, padahal aku mau ngajak abang buat berdoa, euhh aku bangunin aja kali yah,” (menghampiri kasur Tio)
Lalu Caca pun membangunkan Tio.
Caca    : “abang bangun, ayo kita berdoa buat ayah.”
Caca pun terus membangunkan Tio, tetapi Tio belum bangun bangun juga, lalu Caca memanggil Ibunya....
Caca    : “Ibu Ibu... sini... abang ga bangun bangun..” (sambil berteriak)
Lalu Ibu pun datang dengan wajah yang bingung dan tegang...
Ibu       : “Caca kenapa ?”
Caca    : “Ibu, ko abang ga bangun bangun sih ?” (dengan wajah yang kebingungan)
Ibu       : “coba Ibu bangunin yah,” (sambil memegang megang dada Tio) “abang... bangun abang, yu kita berdoa.”
Caca    : “tuh kan bu, abang ga bangun bangun..., coba bu telfon temennya abang.”
Ibu       : “temen abang yang mana ?” (bingung)
Caca    : “ituloh kak Diana dan kak Nazar.” (sambil agak cemas)
Ibu       : “oh iya, terus Ibu juga mau ngehubungin Dokter Elva.”
Lalu Ibu pun segera menelfon Diana dan Dokter Elva. setelah selesai menelfon, Ibu pun langsung menghampiri Tio dan Caca kembali...
Caca    : “udah bu ?”
Ibu       : “udah sayang, sekarang kita tinggal menunggu kak Diana dan Dokter Elva.”
Caca    : “bu aku nunggu di luar aja ya, terus kalo mereka udah dateng, aku kesini ngasih tau Ibu”  (sambil menuju ke arah luar)
sementara Ibu hanya menunukan kepala dan terus melihat ke arah Tio dan menyebut beberapa doa doa yang tidak jelas di dengar, setelah beberapa menit Diana dan Dokter Elva pun datang, dan Caca langsung memberi tahu kepada Ibu yangsedang berada di kamar Tio.
Caca    :  “Ibu Ibu kak Diana, kak Nazar dan Dokter Elva datang..”
lalu Diana, Nazar dan Dokter Elva pun menghampiri Tio...
Nazar   : “tante, Tio kenapa ? kenapa bisa jadi gini ?”
Ibu       : “tante ga tau sayang, tiba tiba tadi pagi dia udah ga bisa di bangunin.”
lalu Diana pun menghampiri Tio...
Diana   : “Tio, kamu kenapa ? kamu harus bangun Tio, kamu harus bangun”
Caca    : “semua itu percuma ka...” (sedih)
Ibu       : “Dokter Elva tolong segera periksa Tio..”
dr. Elva : “baik bu....”
lalu Dokter Elva pun memeriksa Tio, dan tidak ada yang terjadi kepada Tio
Ibu       : “bagaimana dok dengan keadaan Tio ?”
dr. Elva : “maaf bu, tapi saya tidak menemukan apa apa dari dalam tubuhnya Tio...”
Nazar   : “jadi gimana dong dokter, apakah Tio bisa kembali lagi kaya dulu dok ?”
dr. Elva : “saya tidak bisa memastikan keadaan Tio untuk sekarang ini, jadi kita hanya tinggal menunggu keajaiban dari Allah...”
Caca    : “Ibu... apakah abang lagi maen sama ayah.. ?” (memasang wajah yang kebingungan)
Ibu       : “Ibu enggak tahu nak...” (memasang wajah yang sedih)
lalu tirai pun di tutup, dan dari sisi yang lain....
ayah     : “nak sampai sini aja yah jalan jalan kita...”
Tio       : “tapi yah, aku masih pengen jalan jalan sama ayah di surga, aku masih kangen sama ayah...”
ayah     : “nak, kamu harus ingat Ibu kamu, Caca, sahabat sahabat kamu, masih membutuhkan kamu disana... kamu harus pulang nak...”
Tio       : “ayah, aku ga mau yah,,, aku masih pengen disini... di surga Allah sama ayah.”
ayah     : “nak kamu harus ingat, Allah ga akan suka kalo kamu melawan terhadap ayah, juga Ibu kamu..”
Tio       : “tapi ayah.”
lalu ayah menutup mulut Tio dengan telunjuk tangannya...
ayah     : “sssuuut.... nak kamu harus jadi anak yang berbakti terhadap orang tua, jaga adik kamu, juga jangan pernah berbuat perbuatan yang tercela...”
Tio       : “iya ayah, tapi ayah ga papa kan disini sendiri ?”
ayah     : “tidak apa apa nak, ayah tetap bisa menjaga dan mengawasi kalian dari sini, surga Allah..” (sambil memberikan sesuatu ke tangan Tio)
Tio       : “ini apa ayah ?” (kebingungan)
ayah     : “ini tasbih sayang, jadi kalo kamu kangen sama ayah kamu sholat yah...”
Tio       : “iya ayah aku pasti akan sholat ayah... makasih ayaah...”
ayah     : “nak cepat kamu hampiri mereka....” (sambil terus menjauh dari hadapan Tio)
Tio       : “ayah..” (sambil mengulurkan tangannya)
tirai di tutup.  Tiba tiba Tio terbangun sambil memanggil ayah....
Tio       : “ayaaah!!”
Ibu       : “Allhamulillah kamu bangun juga, kamu kenapa sayang ?”
Tio       : “Ibu, tadi aku diajak jalan jalan sama ayah ke surga Allah...”
Ibu       : “kamu jangan bercanda sayang...”
Tio       : “aku ga bercanda bu, aku benar benar melihat ayah, kalo ga percaya ini aku bawa tasbih yang di kasihin ayah ke aku..”
Ibu       : “hah ? kenapa kamu bisa megang tasbih nak ?”
Tio       : “karena ini dari ayah bu...”
Diana   : “kita percaya sama kamu kok Tio.”
Tio       : “makasih Diana, Ibu sekarang aku ngerti aku harus tabah dan sabar. Ayah memang gak ada di dekat  kita, tapi dia ada diatas sana dia selalu disisi kita. Serta Tio pun sadar Tio disini masih dikelilingi oleh semua orang yang menyayangi Tio”
Akhirnya Tio, Caca dan ibunya berpelukan.
SELESAI

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar